Berbekal Rekam Jejak Pendidik, Drs. Nasril Calon Walinagari Guguak Kuranji Hilir Pantas Jadi Perhitungan

Padang Pariaman, Lintas Tiga ~ Atmosfer politik di lapau-lapau dan sudut kampung Nagari Guguak Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat belakangan ini kian hangat. Pemilihan Walinagari (Pilwana) yang digelar enam tahun sekali bukan lagi sekadar ritual coblos foto di bilik suara. Bagi warga setempat, momentum ini adalah penentu ke mana arah kemudi pembangunan desa mereka akan dibawa.

Di tengah riuh rendahnya janji kampanye yang terkadang terdengar seragam, muncul satu nama yang membawa warna baru dalam peta persaingan. Beliau adalah Drs. Nasril, calon Walinagari di nomor urut 2. Mantan birokrat pendidikan senior ini melangkah ke gelanggang politik lokal bukan dengan tangan kosong atau modal retorika semata. Ia datang membawa “portofolio” tebal sebuah rekam jejak panjang di dunia pendidikan yang ia jaminkan untuk visi “kerja nyata”.

​Bagi masyarakat, kehadiran figur berlatar belakang guru dan kepala sekolah seperti Drs. Nasril memberikan angin segar. Kontestasi yang biasanya didominasi oleh janji-janji pragmatis kini bergeser menjadi ruang diskusi yang lebih cerdas, visioner, dan menyentuh kebutuhan mendasar warga.

Menenun Karakter, Dari Ruang Kelas hingga Pemimpin Para Kepala Sekolah

Melihat rekam jejak Drs. Nasril adalah melihat konsistensi dari sebuah pengabdian. Sebelum memutuskan untuk mewakafkan diri demi kemajuan kampung halaman, Nasril adalah sosok yang disegani dalam dunia pendidikan di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Agam. Kapasitas kepemimpinannya sudah teruji sejak lama di lapangan.

Seperti di SMAN 1 Tanjung Mutiara, saat dipercaya menakhodai sekolah ini sebagai Kepala Sekolah, ia sukses meletakkan fondasi kedisiplinan dan tata kelola asrama serta sekolah yang kuat. Bahkan keberhasilan tersebut membuat Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memercayakan kepemimpinan sekolah yang lebih besar dan dinamis ini ke pundak Nasril yaitu di SMAN 2 Lubuk Basung hingga ia memasuki masa purna bakti (pensiun).

Seterusnya, Puncak pengakuan dari sejawatnya juga pernah didapatkan saat ia terpilih memimpin Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) se-Kabupaten Agam. Jabatan ini bukan posisi politik biasa, melainkan buah dari kepercayaan para guru dan kepala sekolah atas kemampuan Nasril dalam menyelaraskan visi, meredam konflik, dan mengambil keputusan strategis.

​”Mengelola sekolah dan memimpin forum kepala sekolah se kabupaten itu sebetulnya adalah contoh kecil dari mengelola sebuah daerah,” ujar salah seorang tokoh masyarakat Guguak Kuranji Hilir saat ditemui di sebuah kedai kopi lokal. “Di sana butuh transparansi, kejujuran, dan yang paling penting adalah jiwa melayani. Pak Nasril sudah lulus ujian itu selama puluhan tahun,” tambahnya beberapa hari lalu ke Jurnalis media ini.

Tiga Pilar dan Kepemimpinan yang Membumi

​Dalam berbagai kesempatan berdialog langsung dengan warga, Drs. Nasril kerap menekankan tiga pilar utama yang menjadi filosofi kepemimpinannya, yaitu kedisiplinan yang tinggi, keuletan dalam menghadapi tantangan, serta antusiasme yang menular untuk membangun masyarakat.

Menariknya, meski memiliki latar belakang birokrat sekolah yang biasanya identik dengan kesan kaku dan formal, Nasril justru dikenal sebagai figur yang sangat humanis dan pembawaannya supel dan humoris. Karakter yang renyah inilah yang membuatnya mampu meruntuhkan sekat-sekat sosial di tengah masyarakat.

Menurut pengakuan warga itu lagi, Ia bisa duduk sama rendah dan tegak sama tinggi, asyik berdiskusi dengan generasi muda yang dinamis, sekaligus hormat dan santun saat mendengarkan masukan dari para tetua adat serta tokoh agama.

“Pendekatan antar pribadi yang cair ini dinilai banyak pihak sebagai modal sosial yang sangat mahal untuk menyatukan warga dalam semangat gotong royong,” ungkapnya lagi.

Merajut Harapan Baru di Nomor Urut 2

​Langkah Drs. Nasril menuju kursi Walinagari Guguak Kuranji Hilir tampaknya didasari oleh kegelisahan seorang pensiunan yang melihat bahwa potensi tanah kelahirannya masih bisa diakselerasi lebih jauh. Ia memandang bahwa tata kelola pemerintahan nagari sudah saatnya bertransformasi menjadi lebih modern, transparan, dan berbasis pada pelayanan publik yang cepat dan prima.

​Kini, dengan nomor urut 2 di tangan, Drs. Nasril sedang merajut asa bersama warga Guguak Kuranji Hilir. Di tengah kejenuhan publik terhadap figur pemimpin yang instan, rekam jejak, integritas, dan kelenturan sosial seorang mantan pendidik seperti dirinya mungkin adalah jawaban yang selama ini dicari oleh nagari ini untuk melompat menuju kemajuan.

​”Pilwana kali ini bukan lagi soal siapa yang paling populer di baliho, melainkan siapa yang paling siap bekerja dengan bukti nyata yang sudah teruji oleh waktu. Warga Guguak Kuranji Hilir kini menatap masa depan di tangan seorang pendidik,” tutupnya mengakhiri.

Editor: Honest