Bukittinggi, lintastiga.com – Aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Fort De Kock di depan Gerbang Atas Kantor Balai Kota Bukittinggi, Gulai Bancah, berlangsung lebih lambat dari jadwal yang telah diumumkan. Semula aksi direncanakan dimulai pukul 13.00 WIB, namun baru berlangsung sekitar pukul 16.00 WIB. Rabu (29/7/26).
Puluhan mahasiswa yang mengikuti aksi tampak mendapat pengawalan ketat dari personel Polresta Bukittinggi. Mereka membawa spanduk dan menyampaikan berbagai tuntutan terkait polemik yang tengah menjadi perhatian publik.
Tuntutan utama massa aksi adalah meminta Wali Kota Bukittinggi mencopot Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP). Dalam orasinya, mahasiswa menilai penegakan aturan harus dilakukan secara adil dan tidak tebang pilih.
Selain menyampaikan tuntutan kepada pemerintah, massa aksi juga beberapa kali melontarkan kritik kepada insan pers. Dalam orasi, terdengar sejumlah peserta aksi meneriakkan tudingan bahwa ada “wartawan yang dibayar untuk memberitakan Pemerintah Kota.” Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari orasi demonstrasi dan tidak disertai bukti yang dipaparkan di lokasi.
Sejumlah wartawan yang meliput aksi tetap menjalankan tugas jurnalistik hingga unjuk rasa berakhir. Aparat kepolisian turut mengawal jalannya aksi sehingga berlangsung dalam keadaan aman dan tertib.
Hingga aksi selesai, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Bukittinggi maupun Kasatpol PP terkait tuntutan mahasiswa tersebut maupun pernyataan yang disampaikan dalam orasi.(*)







