Bukittinggi, Lintastiga com- International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 Tahun 2026 mencatat sejarah baru bagi Kota Bukittinggi. Festival literasi bertaraf internasional yang berlangsung selama beberapa hari itu sukses mengangkat nama kota wisata tersebut ke panggung dunia, sekaligus memperkuat posisi Bukittinggi sebagai pusat pertemuan para tokoh literasi, budaya, dan diplomasi internasional.
Keberhasilan penyelenggaraan IMLF-4 tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak yang bekerja bersama sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan. Dukungan penuh diberikan oleh Ramlan Nurmatias, Denny Abdi, serta Gatot Tri Suryanta.
Kolaborasi tersebut diperkuat oleh dukungan dari Denny JA Foundation dan Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Tidak hanya itu, kehadiran delegasi dari 37 negara menjadi warna tersendiri dalam festival ini. Para sastrawan ternama, jurnalis senior, budayawan, akademisi, hingga diplomat asing berkumpul di Bukittinggi untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau kepada dunia.
Momentum tersebut menjadikan Bukittinggi bukan sekadar kota tujuan wisata, tetapi juga ruang dialog internasional yang mempertemukan beragam perspektif melalui literasi dan kebudayaan.
Usai rangkaian kegiatan berakhir, Ketua IMLF-4, Sastri Bakry, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas dukungan seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan festival tersebut. Pernyataan itu disampaikan setelah melepas kepulangan para delegasi internasional menuju Bandara Internasional Minangkabau.
Menurut Sastri Bakry, keberhasilan IMLF-4 menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, komunitas literasi, dunia diplomasi, dan masyarakat mampu menghadirkan sebuah perhelatan internasional yang berkualitas dan berkesan bagi para peserta dari berbagai negara.
“Keberhasilan ini bukan milik satu pihak, melainkan hasil kerja bersama. Kami bersyukur seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan mendapat respons positif dari para delegasi internasional,” ujarnya.
Lebih jauh, ia berharap capaian IMLF-4 dapat menjadi fondasi untuk memperkuat diplomasi budaya Indonesia melalui literasi.
Festival ini juga diharapkan membuka peluang kerja sama internasional yang lebih luas di bidang pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata.
Dengan berakhirnya IMLF-4, Bukittinggi meninggalkan kesan mendalam bagi para tamu mancanegara.
Dari kaki Jam Gadang, pesan-pesan literasi dan persahabatan antarbangsa kini telah menyebar ke berbagai penjuru dunia, membawa nama Bukittinggi semakin dikenal dalam peta literasi internasional.(MS)






