Produktif di Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Lubuk Basung Kejar Target 8.000 Pesanan Atap Rumbia

Lubuk Basung, Lintas Tiga ~ Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat terus berkomitmen memberikan ruang produktif bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), melalui program pembinaan kemandirian yang menggandeng pelaku UMKM dan pihak luar, para warga binaan kini tengah difokuskan untuk memenuhi target pesanan massal produk kerajinan atap rumbia.

​Kepala Lapas Kelas IIB Lubuk Basung, Budi Suharto, Amd.IP., SH. mengungkapkan bahwa program yang baru berjalan sekitar dua bulan ini merupakan bentuk kerja sama nyata dengan masyarakat luar. Tidak tanggung-tanggung kata Kalapas bahwa pesanan yang masuk ke dalam Lapas mencapai angka 8.000 lembar produk yang diduga menjadi komoditas untuk kebutuhan pasar luas hingga komoditas ekspor.

“Bahan baku seluruhnya dipasok dari luar. Pihak Lapas, melalui warga binaan, bertindak sebagai pelaksana pengerjaan. Saat ini progresnya sudah berjalan dan pengiriman terakhir berkisar di angka 800-an, dengan total akumulasi yang selesai sekitar 2.000 hingga 3.000 lembar,” ujar Budi Suharto diruang kerjanya saat bincang-bincang dengan tim Redaksi media Lintastiga Senin 22 Juni 2026.

​Selain itu menurut Budi Suharto lagi bahwa dengan dilaksanakan kegiatan ini ialah untuk menekan potensi negatif lewat kesibukan bagi warga binaan. ​Secara kalkulasi bisnis, pemenuhan target ini jelas mendatangkan nilai ekonomis. Namun bagi pihak Lapas, keuntungan materi bukanlah indikator utama keberhasilan program ini.

Budi Suharto menekankan bahwa nilai tertinggi dari program kerja ini adalah aspek pembinaan psikologis dan pemulihan mental para warga binaan. Dengan adanya aktivitas fisik yang padat dan terarah, ruang bagi para narapidana untuk memikirkan hal-hal negatif dapat ditekan secara signifikan.

“Bagi saya, kegiatan apa pun yang sifatnya produktif, walaupun secara kalkulasi hanya balik modal, itu sudah sebuah keuntungan. Untungnya apa? Kesempatan napi untuk menganggur dan berpikir negatif seperti merencanakan pelarian atau kembali ke lingkaran narkoba menjadi hilang karena mereka fokus bekerja. Begitu mereka lelah bekerja, pikiran mereka tersalurkan ke hal positif,” tegas Kalapas.

Lebih jauh Kalapas menyampaikan kalau pemberdayaan dalam program tersebut dilakukan tanpa Paksaan dan berkelanjutan. Dikatakan, untuk memastikan program berjalan kondusif, koordinasi teknis di lapangan diserahkan sepenuhnya kepada Seksi kegiatan kerja yang dipimpin oleh Ibu Wira.

​”Saat ini, proyek kerajinan atap rumbia tersebut baru memberdayakan tiga orang warga binaan secara intensif. Pihak Lapas berencana untuk menambah jumlah pekerja seiring berjalannya waktu. Kendati demikian, proses rekrutmen dipastikan berjalan secara sukarela tanpa ada unsur pemaksaan. Warga binaan yang berminat akan didata, diberikan pelatihan khusus, dilatih hingga mahir, baru kemudian diterjunkan ke ruang produksi,” ungkap Kalapas

Selain mendapatkan bekal keterampilan baru sebagai modal saat bebas nanti, para warga binaan yang terlibat juga mendapatkan hak mereka berupa upah kerja yang nantinya, dapat mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan selama di dalam Lapas maupun dikirimkan kepada keluarga di rumah.

“Stimulus finansial ini tidak hanya meregenerasi harga diri mereka sebagai individu produktif, tetapi juga dapat dialokasikan untuk membantu perekonomian keluarga yang mereka tinggalkan di luar,” jelas Budi.

Selanjutnya, ​Lapas Kelas IIB Lubuk Basung tidak hanya terpaku pada satu lini produksi. Selain proyek kerajinan atap rumbia yang berbasis kemitraan UMKM, Lapas juga mulai merambah program pembinaan di bidang tata boga.

​Sebagai langkah awal, bidang tata boga ini baru saja meluncurkan produk kue perdana hasil olahan tangan warga binaan sendiri. Program ini diharapkan dapat menjadi alternatif pilihan pembinaan keterampilan yang lebih variatif bagi warga binaan lainnya.

“Kita akan terus berupaya mengubah fungsi jeruji besi, bukan lagi sekadar tempat penghukuman yang pasif, melainkan sebuah ruang inkubasi bagi manusia-manusia baru yang siap berintegrasi kembali dengan masyarakat,” tutup Kalapas dengan penuh optimis.

Editor: Honest