Bukittinggi, lintastiga.com- Gerakan “Anak Nagari Kurai Baliak ka Surau” setidaknya merupakan langkah strategis membangun kembali peradaban Minangkabau yang berlandaskan falsafah Adat Basandi Syarak- SyarakBasandi Kitabullah. Program tersebut dirancang bukan saja menghidupkan fungsi Surau sebagai pusat ibadah. Tetapi bakal memulihkan peran-nya sebagai pusat pembentukan karakter, pendidikan adat, pewarisan budaya dan kepemimpinan hingga penguatan nilai keagamaan generasi muda.
Penghulu Nan 26 nagari Kurai, As. Dt. Garang, menegaskan gerakan “Anak Nagari Kurai Babaliak ka Surau” merupakan fondasi penting membekali generasi muda dari pergeseran nilai budaya.
Menurut Dt. Garang, Surau seharusnya kembali menjadi laboratorium sosial atau tempat anak kemenakan di nagari ditempa.
“Gerakan itu bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan sebuah kebutuhan mendesak. Kita ingin Surau menjadi benteng pertahanan moral bagi anak nagari. Di sinilah mereka belajar memadukan ilmu dunia dan akhirat,” terang Dt. Garang kepada lintastiga.com di Kurai, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Selasa (21/7/2026).
Dt. Garang jelaskan, melalui sistem pengkaderan terstruktur, anak nagari bakal dibimbing memahami adat Minangkabau, sejarah nagari, kepemimpinan kaum dan seni budaya lokal.
“Selain itu, mereka dibekali pendalaman ilmu agama (tauhid). Upaya ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jati diri, akhlak serta berjiwa kepemimpinan kuat,” harapnya.
Integrasi ke Pendidikan Formal
Ke depan, lanjut Pucuak Pimpinan Adat Nan 26 itu, kompetensi di bidang adat, budaya dan keagamaan diharapkan dapat diakui sebagai prestasi nonakademik pada sistem pendidikan nasional. Capaian seperti kemahiran mengaji, pemahaman adat, kepemimpinan, hingga pelestarian adat budaya ditargetkan masuk penilaian yang mendukung pendidikan formal.
Niniak Mamak kaum Koto itu tambahkan lagi, Pengakuan formal dari pemerintah, sangat krusial agar generasi muda lebih termotivasi ke Surau sekaligus mendalami akar budaya mereka.
“Ketika kemampuan mengaji dan pemahaman adat diakui sebagai prestasi pada sistem pendidikan nasional, maka akan lahir keseimbangan nyata antara kecerdasan intelektual, spiritual dan sosial pada peserta didik kita,” jelas dia.
Ia katakan, bagi masyarakat Minangkabau, khususnya di nagari Kurai V Jorong, gerakan ini merupakan bentuk investasi peradaban. Melalui program di atas, surau menjadi pusat pembinaan generasi, adat hidup dikeseharian dan budaya terwariskan secara berkesinambungan.

Terakhir, tambah Dt. Garang, mengusung semangat “Anak Nagari Kurai Baliak ka Surau”, optimistis bakal mampu melahirkan generasi emas Minangkabau yang berdaya saing di tingkat nasional maupun global. Tentunya tanpa kehilangan akar budaya dan nilai-nilai luhur warisan para leluhur.
Surau Angku Kurai
Sekadar informasi, gerakan “Anak Nagari Kurai Baliak ka Surau” sukses digelar di Surau Angku Kurai Jirek, Mandiangin Koto Salayan, Sabtu (19/7/2026) malam. Gerakan itu dihadiri dan disaksikan langsung Nyiak Garang hingga selesai.
Ke depan, diprogramkan bakal terus berlanjut dan digelar secara berkala di setiap Surau yang ada di wilayah Nagari Kurai V Jorong, Kota Bukittinggi. (and)







