Bukittinggi, Lintastiga.com – Program pengabdian kepada masyarakat SENTUHAN (Sehat, Nutrisi, dan Pertahanan Pasca-Bencana) dilaksanakan di Nagari Muaro Pingai, Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok, untuk mendampingi masyarakat dalam pemulihan pascabencana banjir bandang atau galodo. Program tersebut mencakup edukasi perlindungan anak serta pemenuhan gizi balita dan anak melalui pemanfaatan pangan lokal.
Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tahun 2026 skema BIMA itu dipimpin Kartika Mariyona, S.ST., M.Biomed.CMBT, bersama tim dosen dan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat dan Universitas Perintis Indonesia.

Menurut Kartika, kondisi pascabencana tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fisik dan kondisi ekonomi masyarakat, tetapi juga dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap berbagai risiko, termasuk kekerasan seksual dan persoalan gizi.
Karena itu, SENTUHAN dirancang dengan menggabungkan edukasi perlindungan anak dan pendampingan pemenuhan gizi sebagai bagian dari kegiatan pemulihan masyarakat.
Dalam edukasi perlindungan anak, tim menggunakan video animasi berjudul “Sentuhan Boleh dan Tidak Boleh” serta boneka edukasi (hand puppet). Anak-anak diajak mengenali bagian tubuh yang perlu dijaga, memahami batasan sentuhan, serta mengetahui pentingnya melapor kepada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya apabila mengalami tindakan yang tidak semestinya.
Selain menyasar anak, edukasi juga diberikan kepada orang tua. Tim memperkenalkan konsep sistem kewaspadaan keluarga atau early warning system untuk meningkatkan perhatian dan pengawasan terhadap keselamatan anak, termasuk ketika berada di lingkungan pengungsian dan selama masa pemulihan pascabencana.
Di bidang gizi, tim memperkenalkan pemanfaatan bahan pangan lokal, antara lain ikan bilih dan daun kelor. Kedua bahan tersebut diolah menjadi sejumlah produk makanan, seperti Ikan Bilih Crispy dan Puding Susu Daun Kelor (Pulor), yang kemudian diperkenalkan kepada masyarakat berikut cara pengolahannya.
Tika Dwita Adfar, dosen gizi yang tergabung dalam tim PKM, mengatakan ikan bilih mengandung protein dan kalsium, sedangkan daun kelor mengandung vitamin A, zat besi, kalsium, dan antioksidan.
Menurut Tika, kandungan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan gizi anak. Ia juga mengaitkan pemanfaatan pangan bergizi dengan upaya mencegah stunting pada anak dalam kondisi pascabencana.
Selain pengenalan makanan, tim menyerahkan Buku Panduan Praktis Pengolahan Pangan Lokal “Menu SENTUHAN” kepada para ibu. Panduan tersebut berisi cara mengolah bahan pangan lokal menjadi menu yang dapat dimanfaatkan keluarga.
Program SENTUHAN diketuai Kartika Mariyona dengan anggota Pagdya Haninda Nusantri Rusdi, S.ST., M.Biomed.CMBT, dan Tika Dwita Adfar, S.ST., M.Biomed., Dietisien. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa Azura Dewi Anjelita dan Leni Reskina.
Pelaksanaan program melibatkan Pemerintah Nagari Muaro Pingai, Puskesmas/Pustu, serta tokoh masyarakat setempat. Kegiatan diarahkan pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai perlindungan anak dan pemanfaatan pangan lokal dalam pemenuhan gizi keluarga pascabencana.(Mis)







