Bukittinggi, Lintastiga.com – Sebanyak 15 kader Aisyiyah yang juga merupakan kader posyandu mengikuti pelatihan pencegahan stunting yang diintegrasikan dengan kesiapsiagaan menghadapi bencana di Kenagarian Padang Laweh Malalo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Kegiatan tersebut digelar oleh tim dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UM Sumbar) dan Universitas Perintis Indonesia.
Pelatihan yang merupakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tersebut dilaksanakan di Kantor Pimpinan Cabang Aisyiyah Batipuh Selatan. Program itu didanai melalui BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.

Selain 15 kader Aisyiyah, kegiatan melibatkan 10 keluarga sasaran di Nagari Padang Laweh Malalo, Kepala Puskesmas Batipuh Selatan, Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Batipuh Selatan, kader PKK, serta sejumlah perwakilan warga.
Ketua tim PKM, Yuliza Anggraini, mengatakan pencegahan stunting perlu dilakukan bersamaan dengan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Menurut dia, kondisi bencana dapat mengganggu rantai pangan dan akses terhadap layanan kesehatan, sehingga ibu hamil, bayi, dan balita menjadi kelompok yang rentan.
Karena itu, kader tidak hanya dibekali pengetahuan mengenai gizi dan deteksi dini stunting, tetapi juga keterampilan menghadapi kondisi darurat.
Pelatihan tersebut mencakup pemantauan tumbuh kembang anak, edukasi mengenai 1.000 hari pertama kehidupan, pemanfaatan pangan lokal untuk makanan pendamping air susu ibu (MPASI), serta deteksi dini stunting.

Kader juga dibekali peralatan untuk melakukan deteksi dini stunting dan pengetahuan mengenai pemenuhan kebutuhan gizi bayi, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui dalam situasi bencana.
Salah satu materi pelatihan membahas kesiapsiagaan bencana yang disampaikan Purwanto, yang dalam bahan sumber disebut sebagai Kepala Bidang KL Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanah Datar. Ia menjelaskan adanya perubahan pendekatan dalam manajemen bencana dari penanganan tanggap darurat menuju pengurangan risiko bencana.
Ia juga memperkenalkan pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.
Selain aspek kesehatan dan kebencanaan, pelatihan memasukkan pendekatan budaya dan agama. Pengurus Bundo Kanduang Kabupaten Tanah Datar, Eriyensi, menyampaikan peran keluarga dan lingkungan dalam pola asuh, pemenuhan gizi, kebersihan, serta pendidikan anak.
Materi lainnya disampaikan Jammad Husni, LC., MA, yang dalam bahan sumber disebut sebagai dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Ia membahas pencegahan stunting dari perspektif Islam, termasuk pola makan, pola asuh, pemberian air susu ibu (ASI), serta pentingnya memperhatikan makanan dan minuman yang halal dan baik bagi tubuh.
Pada hari kedua, materi mengenai stunting dan peran Aisyiyah serta Muhammadiyah disampaikan Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Kecamatan Batipuh Selatan, Elfira Deviyanti. Materi mengenai “Isi Piringku”, gizi balita, serta praktik pembuatan MPASI berbasis pangan lokal disampaikan Chyka Febria dan Maria Nova.
Dalam praktik tersebut, peserta memanfaatkan ikan bilis sebagai salah satu bahan pangan lokal. Bahan sumber menyebut ikan bilis tersedia di kawasan Danau Singkarak yang berada di sekitar Nagari Padang Laweh Malalo.
Selama dua hari pelatihan, peserta menjalani penilaian sebelum dan sesudah kegiatan untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan kader dalam menerapkan materi yang diberikan.
Rangkaian implementasi pelatihan kemudian dilakukan dalam kegiatan Posyandu pada 15 Juli 2026. Para kader melakukan pengukuran tinggi dan berat badan serta membagikan produk hasil praktik berupa abon ikan bilis kepada balita dan ibu hamil.
Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan kader dalam melakukan deteksi dini stunting dan mengambil langkah yang diperlukan bagi bayi, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui ketika terjadi bencana.
Program tersebut diharapkan dapat dilanjutkan melalui pelatihan berikutnya dan diperluas kepada kader Aisyiyah serta Muhammadiyah di wilayah Batipuh Selatan. Namun, data sumber belum mencantumkan hasil pengukuran perubahan pengetahuan atau keterampilan kader secara kuantitatif setelah pelatihan.(Nia)







