Bukittinggi, lintastiga.com– Anggota DPRD Kota Bukittinggi Sumatera Barat, Shabirin Rachmat, mendukung kegiatan anak nagari Kurai kota setempat bakal memfungsikan Surau selain tempat bersujud (Shalat) juga ruang pendidikan adat budaya dan spiritual bagi generasi muda sejak dini.
“Saya dukung penuh program positif anak nagari, khususnya generasi muda Kurai bakal memfungsikan Surau sebagai tempat pembelajaran adat budaya dan agama Islam bagi anak kemenakan sejak dini di masing- masing kampung dalam wilayah adat Kurai V Jorong ini,” ujar Shabirin, saat berbincang bersama wartawan dan generasi muda Kurai di Bukittinggi, Selasa (30/6/2026).
Menjaga Kearifan Lokal Lewat Peran Cadiak Pandai
Kata dia, para cadiak pandai (kaum intelektual) Kurai, saatnya berbuat dan kreatif bagaimana caranya agar tetap mempertahankan kearifan lokalnya sendiri sekaligus memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada yakni Surau.
“Diantara kearifan lokal yang dipertahankan itu, misalnya saja terkait kereligiusan dan adab (akhlak) serta budaya. Hal ini, harus dimobilisasi para cadiak pandai agar tercipta generasi masa depan yang memahami kultur nagari,” kata anggota dewan fraksi Gerindra itu.
Panitahan: Daya Tarik Awal untuk Anak Kemenakan
Anggota Komisi I DPRD Bukittinggi itu lanjutkan, jika program anak nagari terealisasi memanfaatkan fasilitas Surau di kampung-kampung, ada baiknya diawali pembelajaran seni berdiplomasi dan komunikasi adat (panitahan).
“Panitahan salah satu cara menarik minat anak kemenakan datang ke Surau. Disamping belajar seni komunikasi ala masyarakat adat Minangkabau melalui panitahan itu, di dalam juga terselip pendidikan adab (pembentukan karakter-red) sebagai bekal kehidupan mereka kelak,” ucap Shabirin sambil menambahkan, proses pembelajaran panitahan, tentunya dilaksanakan usai shalat dan mengaji atau pembelajaran Al-Quran.

Seni Komunikasi hingga Silat Tradisional
Shabirin yang juga pembina kelompok UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) di Manggih Gantiang, kota itu, katakan lagi, nanti seiring perkembangan waktu dan anak kemenakan (usia tingkat SD dan SMP-red) meramaikan Surau, maka pembelajaran selanjutnya juga dikembangkan.
“Ya seperti belajar silat tradisional maupun pencak silat,” katanya.
Putra asli Kurai itu berpesan, jadikan ikhtiar ini secara bertahap dimana nantinya akan bermuara pada satu tujuan besar yaitu mengokohkan kembali panji falsafah Adat Basandi Syara’- Syara’ Basandi Kitabullah di dada generasi penerus.
“Tapi, saat ini jalankan program tersebut secara bertahap dulu. Selanjutnya tentu akan berkesinambungan pada pembelajaran yang tidak kalah penting lagi dan hal itu harus dipahami anak nagari,” jelas Shabirin seraya berjanji tidak akan tinggal diam dan siap memfasilitasi gerakan mulia tersebut.
Denyut Aktivitas Surau Mulai Terasa
Sekedar informasi, sejauh ini di surau-surau kampung seperti Birugo dan Tigo Baleh, lantunan ayat suci, petatah-petitih adat serta deburan langkah pesilat muda telah berdenyut kembali. Menyusul waktu dekat akan segera dilanjutkan di Surau Angku Kurai, Jirek. (and)






