LUBUK BASUNG, LINTAS TIGA – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Padang (UNP) resmi menjalin kolaborasi dengan SMA Negeri 1 Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kerja sama ini diwujudkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat berupa pendampingan pemulihan pasca bencana yang dimulai pada Jumat, 12 Juni 2026.
Kegiatan yang mengusung skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat ini direncanakan akan berlangsung selama dua hari ke depan di lingkungan SMAN 1 Lubuk Basung dengan fokus kegiatannya “Kearifan Lokal dan Pembelajaran Adaptif” dan mengangkat tema spesifik yaitu “Pembelajaran Biologi Adaptif Pasca Bencana melalui Pendekatan Kontekstual Berbasis Kearifan Lokal bagi Guru dan Siswa di Kabupaten Agam”.
Acara ini dibuka langsung oleh Dr. Muhyiatul Fadilah, S.Si., M.Pd., yang juga bertindak sebagai salah satu narasumber. LPPM UNP itu juga menurunkan tim ahli dari Departemen Pendidikan Biologi untuk mendampingi para peserta dengan mengahadirkan, Dr. Rahmawati D, M.Pd (Dosen Pendidikan Biologi UNP), Dr. Fitri Arsih, S.Si., M.Pd (Dosen Pendidikan Biologi UNP) dan Dr. Muhyiatul Fadilah, S.Si., M.Pd (Dosen Pendidikan Biologi UNP).

Kepala SMA Negeri 1 Lubuk Basung, Hendra Putra, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran tim dari Universitas Negeri Padang ke Sekolahnya. Dia mengatakan bahwa kerjasamanya dengan Universitas Negeri Padang sudah mengakar sangat panjang.
“Jauh hari sebelum saya menakhodai SMAN 1 Lubuk Basung, dinamika kolaborasi ini telah kami pupuk sejak saya bertugas di SMAN 1 Palembayan. UNP selalu hadir sebagai kompas akademis bagi kami di daerah,” tutur Hendra Putra bernostalgia sekaligus mengapresiasi loyalitas kemitraan tersebut.
Selanjutnya, Hendra saat hantarannya juga memaparkan pandangan visionernya. Baginya, kegiatan pengabdian masyarakat dari UNP ini bukanlah agenda seremonial belaka, melainkan fase bagi ekosistem pendidikan Agam yang kerap diuji oleh dinamika alam.
Lebih jauh, dia membedah urgensi tema biologi adaptif yang menjadi roh dalam pendampingan kali ini. Beliau menekankan bahwa pasca bencana alam sesungguhnya menyisakan fenomena ekologis yang kaya untuk dibedah secara ilmiah.
“Ketika bencana melanda Kabupaten Agam, bentang alam kita berubah. Di sinilah biologi adaptif memegang peran kunci. Kami tidak ingin siswa kami melihat bencana hanya sebagai duka, tetapi juga sebagai laboratorium alam yang hidup,” ujarnya.
Tidak itu saja saat ini para guru ditantang untuk meramu materi ajar yang kontekstual. Ini adalah metode healing (pemulihan) sekaligus edukasi yang luar biasa. “Siswa belajar biologi untuk bertahan hidup dan bisa mencintai kembali tanah kelahiran mereka,” pungkasnya.
Setelah itu pihak UNP menyerahkan paket bantuan konkret yang menyasar langsung 10 sekolah SMA di Kabupaten Agam. Bantuan tersebut berupa 10 unit KIT Praktikum Alternatif berbasis Microsoft serta ratusan bibit tanaman produktif yang sudah diterima secara simbolis oleh perwakilan masing-masing sekolah penerima manfaat.

Penyerahan bantuan stimulus tersebut dilakukan ialah sebagai bentuk dukungan nyata terhadap keberlanjutan pembelajaran biologi adaptif di Kabupaten Agam, guna mendukung pemulihan fasilitas praktikum pasca bencana.
Terpisah, dalam pemaparan beberapa tim ahli dari Departemen Pendidikan Biologi UNP menjelaskan bahwa kolaborasi strategis ini diwujudkan dalam program pendampingan intensif yang berfokus pada rekonstruksi pola pikir guru dan siswa melalui sains adaptif.
Dikatakan, selama dua hari kedepan peserta akan dibekali formula khusus Pembelajaran Biologi Adaptif Pasca Bencana melalui Pendekatan Kontekstual Berbasis Kearifan Lokal. Bahkan misi penting, mengubah cara pandang terhadap kurikulum biologi dari sekadar hafalan teks buku, menjadi instrumen mitigasi dan adaptasi lingkungan yang kontekstual dengan karakteristik geografis Kabupaten Agam.
Disisi lain kata narasumber lagi, untuk menembus keterbatasan lewat praktikum mikro dan bibit kehidupan. Menurutnya bahwa bencana seringkali melumpuhkan ruang laboratorium sekolah, menghancurkan alat-alat peraga, dan menyisakan keterbatasan fasilitas. Maka disinilah letak ketepatan sasaran program.
” Ketika laboratorium konvensional belum pulih total, KIT Praktikum Alternatif hadir sebagai solusi praktis agar kegiatan ilmiah siswa tidak mandek. Pemanfaatan instrumen mikro dan integrasi teknologi Microsoft memungkinkan eksperimen biologi tetap berjalan presisi dalam kondisi darurat sekalipun,” ulasnya.

Sementara itu, penyerahan bibit tanaman menjadi simbol dari dimulainya pemulihan ekosistem sekolah secara mandiri. Guru dan siswa didorong untuk langsung mempraktikkan biologi adaptif melalui aksi penanaman kembali (reboisasi skala mikro).
” Langkah ini bukan sekadar aktivitas menanam, melainkan sebuah laboratorium lapangan terpadu di mana siswa belajar tentang botani, fisiologi tumbuhan, sekaligus melakukan tindakan nyata mitigasi bencana lingkungan. Serta proses belajar mengajar biologi yang relevan kondisi pasca bencana, memanfaatkan potensi serta kearifan lokal yang ada di Kabupaten Agam sebagai sarana pemulihan (recovery) dan adaptasi,” bebernya.






