Lubuk Basung, Lintas Tiga ~ Kekuatan suara masyarakat di era digital kembali membuahkan hasil nyata. Setelah sempat menjadi perbincangan hangat dan viral di media sosial Facebook, keluhan warga mengenai kerusakan jalan di kawasan Balai Selasa, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat akhirnya mendapat respons cepat dari pihak berwenang.
Sebelumnya, warga yang kecewa sempat melakukan aksi protes spontan dengan menanam pohon pisang di tengah jalan. Aksi ini merupakan bentuk jeritan hati masyarakat terhadap kondisi infrastruktur yang kian memprihatinkan dan membahayakan keselamatan para pengguna jalan.
Melihat kondisi yang mulai ramai di media sosial, Pemerintah Kabupaten Agam tidak tinggal diam. Bupati Agam segera mengambil langkah taktis dengan membangun komunikasi intensif bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Koordinasi cepat ini dilakukan karena status jalan yang rusak tersebut merupakan jalan di bawah wewenang Pemerintah Provinsi.

Sinergi lintas Pemerintah di lapangan bak gayung bersambut. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) langsung menyambut baik koordinasi tersebut. Hubungan kerja sama yang cepat ini membuahkan instruksi tegas untuk segera menurunkan tim teknis ke titik kerusakan di Balai Selasa.
Guna memastikan pengerjaan berjalan dengan aman, lancar, dan sesuai target, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR) Kabupaten Agam, Ofrizon, S.T., turun langsung memimpin pemantauan di lokasi. Beliau didampingi oleh perwakilan manajemen dari BMCKTR Wilayah III Provinsi Sumatera Barat.
Kehadiran para pejabat teknis di lapangan ini menjadi bukti komitmen serius pemerintah daerah dalam menjawab keluhan warganya. Seluruh tim yang terlibat berkejaran dengan waktu agar perbaikan darurat ini bisa rampung sepenuhnya pada hari ini, Minggu (21/6/2026).
Di sela-sela peninjauan lapangan, Ofrizon menjelaskan bahwa perbaikan yang sedang dikebut itu sifatnya adalah penanganan kedaruratan yang terukur. Mengingat jalur ini merupakan urat nadi transportasi masyarakat yang tidak boleh terputus lama, maka dipilih solusi yang paling efisien.
Tim di lapangan memanfaatkan teknologi aramco, yaitu pipa baja bergelombang yang dirancang khusus untuk menggantikan fungsi gorong-gorong yang rusak. Keunggulan dari teknologi ini adalah proses pemasangannya yang relatif cepat namun memiliki ketahanan struktur yang cukup kuat untuk menahan beban jalan.

Meski demikian, Ofrizon menggarisbawahi bahwa pemasangan aramco ini barulah langkah awal atau jembatan menuju perbaikan yang lebih kokoh. Diinformasikan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sudah merencanakan untuk melakukan rekonstruksi secara permanen pada anggaran tahun ini.
“Karena kewenangan jalan ini ada di tingkat Provinsi, proses penganggaran untuk bangunan permanen tentu membutuhkan waktu dan prosedur tersendiri. Oleh karena itu, saat ini Pemkab Agam bersama Pemprov Sumbar mengambil langkah taktis memasang aramco terlebih dahulu. Yang terpenting bagi kami adalah mobilitas warga dan perputaran ekonomi tidak lumpuh total,” ujar Ofrizon.
Selanjutnya, di balik suksesnya perbaikan cepat ini, pihak PUTR Agam menitipkan sebuah pesan penting yang menjadi kunci keawetan jalan ini ke depan. Masalah jalan rusak sering kali bukan hanya soal kualitas aspal, melainkan juga tentang disiplin para pengguna jalan itu sendiri.
Ofrizon mengingatkan bahwa ruas jalan yang membentang dari Simpang Gudang hingga ke arah Maninjau ini merupakan Jalan Kelas III. Status kelas jalan ini memiliki aturan teknis yang sangat ketat mengenai batas maksimal beban kendaraan yang boleh melintas.
Secara aturan, jalan ini hanya dirancang untuk menahan beban kendaraan dengan bobot maksimal 16 Ton. Angka ini sudah termasuk berat kendaraan beserta seluruh muatan barang yang dibawanya. Sayangnya, di lapangan masih sering ditemukan truk-truk besar dengan muatan logistik yang dipaksakan hingga mencapai 30 Ton. Kendaraan yang melebihi kapasitas (overloading) inilah yang menjadi musuh utama aspal jalan.
“Jika truk-truk bermuatan super berat ini terus-menerus melintas tanpa ada batasan, maka gorong-gorong dan aspal yang baru saja diperbaiki ini dipastikan akan cepat hancur dan ambles kembali dalam waktu singkat,” ungkapnya.
Oleh karena itu, pemerintah daerah mengimbau dengan sangat tegas kepada para pengusaha angkutan dan para sopir truk untuk memiliki kesadaran bersama. “Diminta untuk mengurangi tonase muatannya agar sesuai dengan kapasitas Jalan Kelas III ini demi kepentingan dan keselamatan bersama,” ujarnya pula.
Selain untuk kendaraan berat, imbauan juga ditujukan kepada para pengendara sepeda motor yang melintasi jalur Balai Selasa. Warga diminta untuk tetap ekstra waspada dan menurunkan kecepatan kendaraan mereka saat melewati titik yang baru diperbaiki.
“Hal ini dikarenakan kondisi jalan pasca-perbaikan darurat masih dalam masa transisi. Lapisan tanah dan material di sekitar gorong-gorong aramco masih membutuhkan waktu untuk proses pengerasan yang optimal, sehingga permukaan jalan belum sepenuhnya mulus dan stabil seperti sedia kala,” tambah Ofrizon.

Menjelang Magrib Jalan Pulih, Warga Bernapas Lega
Kerja keras tim gabungan di lapangan akhirnya membuahkan hasil manis. Berdasarkan pantauan langsung media Lintastiga di lokasi menjelang waktu Magrib, kesibukan alat berat dan para pekerja teknis mulai berangsur sepi.
Struktur gorong-gorong aramco yang baru kini sudah tertanam dengan presisi dan ditimbun dengan rapi. Arus lalu lintas dari arah Simpang Gudang maupun sebaliknya yang sempat tersendat, kini terpantau sudah kembali mencair dan dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat dengan normal.
Pulihnya akses jalan ini disambut dengan rasa syukur yang mendalam oleh warga sekitar dan para pengendara interkota yang kerap melintas di jalur tersebut. Bagi mereka, selesainya perbaikan ini merupakan berkah besar yang menghilangkan rasa cemas mereka.
Sebab, sebelum adanya perbaikan ini, lubang menganga akibat gorong-gorong yang ambles tersebut sudah berulang kali memicu kecelakaan lalu lintas tunggal. Kondisi itu menjadi momok yang sangat menakutkan, terutama bagi pengendara yang melintas pada malam hari dalam kondisi cuaca hujan.
Respons cepat yang ditunjukkan oleh Pemkab Agam dan Pemprov Sumbar dalam hitungan hari bahkan belum sempat 24 jam ini menjadi sebuah contoh baik. Peristiwa ini membuktikan bahwa keluhan dan aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat secara terbuka dapat menjadi dorongan positif bagi pemerintah untuk bergerak cepat demi keselamatan dan kesejahteraan orang banyak.






