Indeks

Kembalinya Sang Maestro Fatmiarti, Ikon Puisi 90-an Siap Beraksi di HUT ke-33 Lubuk Basung

​​Kab. Agam, Lintas Tiga ~ Panggung sastra Sumatera Barat seolah kembali memanggil memori masa lalunya. Fatmiarti, nama yang tak asing bagi penikmat puisi di era 90-an khususnya di kancah sastra Sumbar-Riau dikabarkan akan kembali tampil memukau dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Lubuk Basung, Kabupaten Agam yang dikabarkan akan jatuh pada 19 Juli mendatang.

​Fatmiarti bukan sekadar nama, ia adalah representasi dari era keemasan pembacaan puisi, di mana setiap bait yang dilantunkan mampu menyentuh relung batin audiens. Meski saat ini ia lebih dikenal publik sebagai sosok aktivis dan politikus yang vokal dan dinamis, bakat sastra yang mendarah daging itu ternyata tak pernah benar-benar padam. Ia terus meronta, meminta ruang untuk kembali diungkapkan.

​Dalam momentum spesial HUT Lubuk Basung kali ini, Fatmiarti dijadwalkan akan meluncurkan sekaligus membacakan karya puisi terbaru dari sastrawan ternama, Pinto Janir. Kolaborasi antara kekuatan vokal Fatmiarti dan kedalaman diksi Pinto Janir ini tentu menjadi suguhan yang sangat dinantikan oleh masyarakat, khususnya para pencinta sastra di “Kampuang Tacinto”.

​Tetapi, di balik antusiasme yang membuncah, terselip sebuah pertanyaan besar di kalangan penggiat seni lokal. Akankah momentum HUT ke-33 Lubuk Basung ini benar-benar memberikan panggung yang layak bagi seorang legenda sastra untuk mengobati kerinduan publik ? Mari kita tunggu aksi “turun gunung” Fatmiarti pada 19 Juli nanti, yang diharapkan tidak hanya menjadi ajang nostalgia, tetapi juga suntikan semangat baru bagi literasi dan kebudayaan di Lubuk Basung.

Menggugat Sunyi dengan Sastra, Fatmiarti dan Janji Bakti untuk Lubuk Basung

Di tengah hiruk-pikuk persiapan perayaan HUT ke-33 Lubuk Basung, sebuah kerinduan mendalam tengah disuarakan oleh sosok yang sudah tak asing lagi di dunia sastra daerah. Fatmiarti, penyair yang sempat lama menepi dari panggung publik, kini memutuskan untuk kembali hadir. Bukan sekadar untuk tampil, ia datang membawa misi “turun gunung” guna mendedikasikan suaranya bagi tanah kelahirannya.

​Penampilan Fatmiarti pada perayaan HUT kali ini menjadi sangat dinanti. Ia dipastikan akan membawakan kolaborasi spesial dengan seniman senior, Pinto Janir. Meski di balik layar sempat muncul spekulasi mengenai kepastian teknis panggung, antusiasme Fatmiarti justru tidak surut. Baginya, panggung hanyalah media, namun substansi yang ingin ia sampaikan jauh lebih besar.

​Saat ditemui di sela-sela persiapannya, Fatmiarti mencurahkan harapan mendalamnya terkait penampilan yang akan ia dedikasikan nanti bagi kampung halamannya. Dikatakan, puisi bukan sekadar rangkaian diksi yang disusun rapi untuk dilantunkan di atas panggung. Tapi ia adalah napas, doa, sekaligus wujud cinta yang paling murni kepada tanah kelahiran.

“Ketika saya memutuskan untuk kembali melangkah ke panggung sastra setelah sekian lama, keputusan ini lahir bukan dari ego untuk dipuja atau sekadar nostalgia masa lalu. Ini adalah panggilan jiwa yang tak kuasa saya bendung dari dorongan batin, yang mendesak saya untuk kembali berbuat sesuatu bagi Lubuk Basung, kampung yang telah membentuk karakter, mengasah idealisme, dan memberi saya ruang untuk tumbuh hingga titik ini,” ungkap Fatmiarti di Lubuk Basung saat kebetulan bertemu dengan tim media ini (17/7/26).

​Menurutnya, melalui kolaborasi spesial dengan karya-karya hebat dari sahabatnya Pinto Janir, di perayaan HUT ke-33 ini menyimpan harapan yang sangat besar. Yaitu ingin momentum ini tidak hanya menjadi seremoni sesaat, melainkan menjadi pemantik api semangat bagi generasi muda.

“Saya rindu melihat anak-anak muda Lubuk Basung kembali jatuh cinta pada literasi, pada kekuatan seni tutur, dan pada keindahan bahasa yang perlahan mulai terpinggirkan oleh arus modernisasi. Kita perlu menjaga identitas budaya ini agar tidak sekadar menjadi artefak sejarah, tetapi tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat,” ucap Politikus PAN Agam dan Sumbar ini lagi bercerita.

​Lebih jauh dari itu dia berharap panggung tersebut hendaknya bisa menjadi simpul yang mempererat silaturahmi antara seniman, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat. Seni bukanlah entitas yang berdiri sendiri, ia harus berinteraksi dengan kebijakan, dengan dukungan publik, dan dengan semangat gotong-royong.

“Saya percaya bahwa sebuah daerah akan memiliki martabat yang tinggi, bukan hanya dari pembangunan fisiknya, melainkan dari sejauh mana masyarakatnya mampu menghargai, merawat, dan memuliakan para kreator serta nilai-nilai estetika yang hidup di dalamnya,” ulasnya.

​Masih perihal yang sama, pada HUT ke-33 ini, Fatmiarti menitipkan mimpi agar Lubuk Basung tumbuh menjadi rumah yang ramah bagi kreativitas. Semoga setiap bait puisi yang nanti di lantunkan, mampu menjadi jembatan bagi dialog-dialog konstruktif ke depannya.

“Saya ingin membuktikan bahwa ‘turun gunung’ ini adalah langkah awal untuk menanam kembali benih-benih kebudayaan yang lebih subur, yang nantinya akan dipetik hasilnya oleh generasi penerus kita di masa depan. Sebab bagi saya, mengabdi untuk tanah kelahiran adalah ibadah tertinggi yang bisa dilakukan oleh seorang seniman,” ujarnya menambahkan.

Sementara, kolaborasi Fatmiarti dan Pinto Janir diprediksi akan menjadi salah satu magnet utama dalam rangkaian HUT ke-33 Lubuk Basung. Kehadiran mereka di atas panggung bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah pesan simbolik tentang pentingnya keberlanjutan regenerasi seniman lokal.

Dengan demikian, gairah yang dibawa oleh Fatmiarti tidak berhenti saat tirai panggung ditutup. Momentum ini diharapkan menjadi titik balik bagi keterlibatan aktif generasi muda dalam merawat jati diri Lubuk Basung melalui jalur literasi dan kebudayaan.

Editor: Honest GS
Exit mobile version