Agam, lintastiga.com- 27 November 2025. Ini merupakan kali kedua yang terjadi dalam waktu yang berdekatan. Sebelumnya Sungai Tuwua ini pernah meluapkan air yang begitu dahsyat dan memporak porandakan beberapa rumah sekaligus tempat usaha warga Kanagarian Kototuo, Kecamatan 4 Koto.
Banjir bandang menghantam rumah warga dan tempat usaha sekaligus mereka tinggal di Kanagarian tersebut, sehingga mengalami kerugian yang sangat besar.
Warga Kototuo bernama Gusniati yang akrab di sapa Nia, merupakan salah satu korban Banjir Bandang yang mengalami rusak berat, rumah sekaligus tempat usahanya mengalami kerusakan yang sangat memperhatinkan. ia mengalami kerugian hingga puluhan juta, ssehingga dia dan karyawan sudah tidak dapat lagi bisa bekerja.
Ia mengatakan,” saat kejadian, beberapa hari sebelumnya curah hujan tak kunjung berhenti, namun pada tanggal 27 Desember 2025, hujan sangat deras dan terdengar gemuruh bbebatuan menggelegar di aliran Sungai Tuwua, sehingga meluap ke rumah warga dan dan ke jalan’ jalan umum.
” Sore itu, air besar dan bebatuan menghempaskan dinding kamar dan dapur, ruangan yang sudah dipenuhi lumpur setinggi dada, sebagian peralatan bisa di selamatkan, akan tetapi ada 2 buah kulkas frizer, kompor, alat alat dapur, kasur, beras dan banyak lainnya tergenang air. sebagian hanyut ” ucapnya sedih dengan mata kosong.
Saya hanya berharap Galodo kali ini tidak menghanyutkan rumah sekaligus tempat ia berusaha seperti tanggal 11 Mai tahun lalu, yang menyebabkan bangunan Datar dengan Tanah sampai tak bersisa satupun”
lanjutnya,” Trauma yang mendalam masih menyelimuti masyarakat dan saya yang berdomisili di sini. Galodo 2024 dan 2025 adalah bencana terburuk yang pernah terjadi sepanjang kesejarahan banjir bandang terutama di masa kolonial Belanda sampai 2024.
” Tahun lalu saya mengalami kerugian sebesar 100 jutan lebih, tapi tahun ini kerugian mencapai 20 jutaan lebih,” ungkap Nia mengakhiri.
