Indeks

Pesan Haru dari Palembayan: Jangan Biarkan Obor Sejarah III Koto Silungkang Padam

Agam, lintastiga.com- Di balik indahnya alam Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terhampar wilayah nagari tua yang sarat akan sejarah dan tradisi. Nagari itu adalah III Koto Silungkang.

Kini, masyarakat nagari menikmati kehidupan yang damai dan tenteram. Merenda asa, menggarap sawah ladang, hingga menggerakkan roda pembangunan. Namun, pernahkah anak cucu nagari sejenak hening dan merenungkan: Bagaimana nagari ini pertama kali berdiri?

Langkah Pertama dari Tanah Inti Luhak Agam

Ratusan tahun silam, jauh sebelum Indonesia merdeka dan garis batas administrasi nagari dibentuk, kawasan ini hanyalah rimba belantara yang lebat, legam bahkan tak tersentuh.

Di kala itu, beranjaklah rombongan para perintis. Para leluhur ini mengalirkan darah panaruko dari Luhak Agam, salah satu Luhak Nan Tigo sekaligus jantung peradaban Minangkabau.

Berdasarkan jejak tambo lisan dan berbagai rujukan sejarah, pergerakan migrasi lokal ini berawal dari wilayah inti Luhak Agam seperti kawasan Kamang, Tilatang, Matua hingga Palupuah.

Berbekal tekad, diawali cita-cita luhur demi masa depan anak cucu, para pambuka koto (pemukiman) menembus lebatnya hutan dan menyeberangi sejumlah anak sungai guna manaruko (membuka) lahan baru di belantara Palembayan.

Jerih Payah Pancacak Jerami dan Lahirnya Tigo Koto

Setapak demi setapak rimba dibabat, pepohonan kayu ditumbangkan. Jerih payah para pancacak jerami itulah, terentang garis batas ulayat sebagai tempat berdiam dan bernaung bagi keturunannya di kemudian hari.

Batas ulayat tersebut melingkupi tiga pemukiman utama (koto), pada akhirnya menjadi cikal bakal nagari. Pemukiman itu, kini dikenal Jorong Silungkang, Jorong Tantaman dan Jorong Gumarang.

“Pengorbanan niniak moyang kita di masa lalu bukanlah hal yang mudah. Mereka menembus hutan belantara, berhadapan dengan ancaman alam demi memastikan anak cucu di masa depan menerima warisan ulayat, identitas dan tempat pulang,” ungkap salah seorang anak nagari setempat, A.Efendi kepada media ini, Senin (3/8/2026).

Ketiga koto tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri. Dipersatukan oleh rasa persaudaraan dan pertalian adat yang erat, para tetua menancapkan tiang kesepakatan. Merekalah yang mengikatkan ikrar persekutuan luhur, hingga hari ini wilayah itu berdiri kokoh sebagai Nagari III Koto Silungkang.

Dari tetesan keringat niniak moyang itu, lahirlah tatanan kaum, suku hingga balai adat (rumah gadang- red) tempat bermusyawarah dan surau serta masjid tua sebagai ruang bersujud. Termasuk salah satu warisan sastra lisan nan melankolis yakni Tupai Janjang. Sastra lisan Tupai Janjang ini, telah ditetapkan ‘Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia’.

“Kini kita memetik buah dari pohon yang tidak pernah kita tanam. Meminum air sumur yang tidak pernah kita gali dan aliri. Rasanya seakan kufur budi kita ini selaku anak cucu atau masyarakat adat nagari jika nama dan perjuangan para leluhur terkubur begitu saja tanpa pernah dikenang,” kata Efendi yang juga pegiat kekuasaan adat Minangkabau itu.

Panggilan Jiwa Anak Nagari

Pemberitaan ini hadir bukan sekadar memberi informasi, melainkan sebuah seruan kerinduan dan panggilan jiwa bagi seluruh elemen masyarakat adat Nagari III Koto Silungkang. Baik yang menetap di kampung halaman maupun para perantau yang merindukan tanah kelahiran.

Kini, mungkin saatnya unsur masyarakat adat nagari bergerak dan berupaya bersama. Langkah tersebut bisa saja dimulai mendengar atau mencatat kembali penuturan tambo lisan para tetua yang masih ada, menyusuri garis sejarah manaruko dari wilayah Luhak Nan Tigo hingga terbentuknya Tigo Koto.

“Selain itu, satu hal yang tak kalah penting adalah menetapkan secara resmi ‘Hari Jadi Nagari III Koto Silungkang’. Langkah ini merupakan wujud bakti, doa dan penghormatan setinggi-tingginya kepada para niniak moyang,” kata dia.

“Selama ini, kita tidak pernah lupa mengibarkan Sang Saka Merah Putih merayakan kemerdekaan bangsa. Namun, alangkah sejuk dan tenangnya arwah para leluhur di alam keabadian, jika kita anak cucu juga mengenang, menghormati bahkan merayakan hari berdirinya nagari yang lahir dari tetesan keringat dan perjuangan mereka,” imbuhnya.

Mengingat Jasa, Menjaga Marwah

Mengingat sejarah leluhur bukanlah menyombongkan masa lalu, melainkan memberikan cermin terhadap generasi muda atau penerus agar tahu asal dan ke mana marwah nagari harus dijaga.

“Mengingat jasa nan luas, mengenang budi nan tinggi, mari kita bersama-sama menyingkap kembali lipatan sejarah Nagari III Koto Silungkang. Sebab nagari yang bermartabat adalah nagari yang tidak pernah melupakan tetesan keringat para perintisnya,” ajak Efendi berharap. (and)

Penulis: A. Efendi
Exit mobile version